BERBAGI

BERBAGI
"WELCOME"

Kamis, 29 Maret 2012

alat pengukuran ( evaluasi pembelajaran )

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Pada umumnya penilaian hasil belajar di sekolah menggunakan tes buatan guru untuk seluruh bidang studi. Walaupun tes baku lebih baik dari tes buatan guru, tes baku sangat langka karena membuat tes baku memerlukan beberapa kali percobaan dan analisis validitas dan realibitasnya. Sifat tes sebagai alat ukur hasil  belajar mempunyai sifat speed tes (tes yang mengutamakan kecepatan) dan ada pula tes yang memiliki sifat power test ( mengutamakan kekuatan). Tes objektif pada umumnya memilki sifat speed test, adapun tes esai atau uraian memilki sifat power test.
Alat yang digunakan untuk mengukur dalam rangka menilai hasil belajar siswa terutama hasil belajar kognitif berkenaan dengan penguasaan bahan pengajaran yang sesuai dengan tujuan dari pengajaran.
Dilihat dari segi alatnya dibedakan menjadi tes dan bukan  tes (non tes). Dalam pelaksanaanya tes ini diberikan secara lisan (menuntut jawaban secara lisan), secara tulisan mrenuntut jawaban secra tulisan (menuntut jawaban tertulis) dan perbuatan tindakan (menuntut jawaban dalam bentuk perbuatan atau tindakan).
B.     Rumusan Masalah
Rumusan masalah adalah suatu rumusan masalah ke dalam bagian-bagian yang lebih tegas dan lebih jelas agar tidak menimbulkan perbedaan penafsiran yang penulis teliti/bahas. Adapun rumusan masalahnya yaitu sebagai berikut :
1.      Apa saja yang menjadi alat ukur dalam tes?
2.      Bagaimana cara mengukur dalam non tes?
3.      Bagaimana menggunakan skala pengukuran?
C.    Tujuan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini yaitu untuk memneuhi salah satu tugas Mata Kuliah Pembaharuan dalam PBM di SD. Selain itu juga, penulisan makalah ini bertujuan untuk menambah wawasan dan ilmu pengetahuan mengenai model-model pembelajaran.
D.    Sistematika Penulisan
Untuk memberikan gambaran tentang isi keseluruhan dari penulisan makalah ini, akan penulis kemukakan sistematikanya sebagai berikut :
BAB I  :  Pendahuluan terdiri dari :
    Latar Belakang, Rumusan Masalah, Tujuan dan Sistematika Penulisan.
BAB II            :  Isi terdiri dari :
Jenis tes terdiri dari tes dan non tes, alat ukur non tes terdiri dari skala penilaian dan skala sikap, checklist, rating scale, skala pengukuran terdiri dari skala nominal, ordinal, interval dan skala atau angka ratio.
BAB III: Penutup terdiri dari :
Kesimpulan dan saran.
BAB II
ISI
A.      Jenis Tes
Jenis tes sebagai alat ukur di bagi menjadi dua yaitu:
1.        Tes
a.      Pilihan Ganda
Soal bentuk pilihan ganda adalah suatu soal yang jawabannya harus dipilih dari beberapa kemungkinan jawaban yang telah disediakan. Secra umum, setiap soal pilihan ganda terdiri dari pokok soal (stem) dan pilihan jawaban (option). Pilihan jawaban terdiri atas kunci jawaban dan pengecoh (distractor). Kunci jawaban ialah jawaban yang benar atau paling benar. Pengecoh merupakan jawaban yang tidak benar, namun kemungkinan seseorang memilihnya apabila tidak menguasai bahannya.
Kaidah soal pilihan ganda:                      
1)        Pokok soal (stem) yang merupakan permasalahan harus dirumuskan dengan jelas.
2)        Perumusan pokok soal dan alternative jawaban hendaknya merupakan pernyataan yang diperlukan saja.
3)        Untuk setiap soal hanya ada satu jawaban yang benar atau yang paling benar.
4)        Pada pokok soal (stem) sedapat mungkin dicegah perumusan pernyataan yang bersifat negatif.
5)        Alternative jawaban (option) harus logis dan pengecoh harus berfungsi.
6)        Usahakanlah agar tidak ada tanda “petunjuk” untuk jawaban yang benar.
7)        Usahakan agar option homogeny, baik dari segi isi maupun dari segi struktur kalimat.
8)        Apabila option terbentuk angka terkecil ke angka terbesar atau sebaliknya.
b.        Isian atau Melengkapi
Fill in the blank items atau biasa disebut completion test atau soal isian soal menyempurnakan atau soal melengkapi. Dalam soal isisan hanya ada satu kemungkinan jawaban yang benar, bentuk item yang terbaik adalah menyelesaikan atau “mengisi yang kosong”.
Dibawah ini beberapa petunjuk atau saran untuk menyusun soal isian:
1)   Usahakan untuk tidak mengutip kalimat atau pernyataan dalam buku teks atau buku catatan.
2)   Bagian yang kosong hendaknya hanya dapat diisi dengan satu jawaban yang benar, artinya tidak boleh ada keraguan mengenai jawaban yang benar.
3)   Bagian yang dikosongkan terdiri dari satu kata kunci atau kata pokok.
4)   Kalimat harus sederhana dan jelas sehingga muidah dimengerti.
5)   Bagian yang kosong ditaruh diakhir kalimat.
c.         Uraian atau Essay
Soal bentuk uraian adalah soal yang jawaban menuntut siswa untuk mengingat dan mengorganisasikan gagasan-gagasan atau hal-hal yang telah dipelajari dengan cara mengemukakan atau mengekspresikan gagasan tersebut dalam bentuk uraian tertulis.
Soal bentuk uraian yang dimaksudkan dalam tulisan ini disamping mengukur kemampuan siswa dalam hal menguraikan atau memadukan gagasan-gagasan atau menyelesaikan hitungan-hitungan terhadap materi atau konsep tertentu.
Soal bentuk uraian diklarifikasikan berdasarkan pada penyekorannya dalam bentuk uraian objektif dan soal bentuk uraian  non objektif.
Soal bentuk uaraian objektif adalah suatu soal atau pertanyaan yang menuntut sehimpunan jawaban dengan pengrertian/ konsep tertentu, sehingga penyekorannya dapat dilakukan secara objekitf.
Soal bentuk uraian non objektif adalah suatu soal yang menghendaki sehimpunan jawaban dengan pengertian/ konsep menurut pendapat masing-masing siswa, sehingga penyekorannya mengandung unsure subjektivitas (sukar dilakukan untuk dilakukan secara objektif). Pada prinsipnya, perbedaan antara soal bentuk uraian objektif dan non objektif terletak pada kepastian pensekoran.
Pada soal bentuk uraian objek, kunci jawaban dan pedoman pensekoran lebih pasti (diuraikan secara jelas hal-hal komponen yang diskor dan berapa besarnya skor untuk setiap komponen). Pada soal bentuk uraian non objektif pengaruh unsure subjektivitas dalam pensekoran dapat dikurangi dengan cara membuat rentang skor untuk setiap criteria.  dengan kata lain, pedoman yang rinci dan jelas dapat digunakan oleh orang yang berbeda untuk menskor jawaban masing-masing siswa, sehingga hasil penskorannya relatife sama.
Skor soal bentuk uraian non objektif dinyatakan dalam bentuk rentangan, karena hal-hal atau komponen yang diskor hanya diuraikan secara garis besar dan berupa criteria tertentu. 
2.        Non Tes
Informasi tentang hassil belajar tidak hanya didapatkan melalui tes, akan tetapi dapat diperoleh melalui alat ukur bukan tes seperti pedoman observasi, skala nilai, skala sikap, daftar cek (check list), rating scale. Alat ukur non tes yang digunakan untuk memperoleh informasi hasil belajar terutama dalam hal perubahan perilaku yang berkenaan dengan ranah kognitif, efektif maupun psikomotor terutama yang berhubungan dengan apa yang dapat dibuat atau dikerjakan oleh siswa daripada yang diketahui atau dipahaminya. Dengan demikian alat ukur yang digunakan untuk mengukur hal-hal yang berhubungan dengan penampilan dapat dilakukan dengan pengamatan atau observasi.
a.      Observasi
Melalui observasi dapat diketahui bagaimana sikap dan perilaku siswa, kegiatan yang dilakukan, tingkat partisipasi dalam suatu kegiatan, proses kegiatan yang dilakukan, kemampuan bahkan hasil yang diperoleh dari kegiatan.
Ada tiga jenis observasi, yaitu :
1)      Observasi langsung adlah pengamatan yang dilakukan terhadap gejala atau proses yang terjadi dalam situasi yang sebenarnya dan langsung diamati oleh pengamat.
2)      Observasi tidak langsung dilaksanakan dengan menggunakan alat.
3)      Observasi partisipasi berarti bahwa pengamat harus melibatkan diri atau ikut serta dalam kegiatan yang dilaksanakan oleh individu atau kelompok yang diamati.
Keberhasilan belajar dapat diukur dengan menggunakan alat ukur nontes, alat ukur umum yang digunakan yaitu :
b.      Skala Penilaian
Skala penilaian ini disusun untuk keperluan pencatatan hasil pengamatan (observasi) terhadap individu. Catatan ini menunjukan “tingkat” pencapaian dalam suatu kegiatan, misalnya dalam kegiatan-kegiatan : partisipasi siswa dalam kelompok bermain, kegiatan berkubun kegiatan saat melakukan percobaan dan lain sebagainya. Tepatnya skala penilaian digunakan untuk mengukur suatu proses yang dinilai adalah setiap “aspek” yang merupakan “cirri” kegiatan tersebut yang dilakukan siswa sesuai dengan kemampuannya. Hal yang penting dilakukan dalam skala penilaian adalah criteria skala nilai, yakni penjelasan operasional untuk setiap alternatif jawaban akan mempermudah pemberian nilai dan terhindar dari subjektivitas penilai.
Seperti halnya instrument yang lain, penyusunan skala penilaianpun hendaknya memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
1)        Tentukan tujuan yang akan dicapai dari skala penilaian ini sehingga jelas apa yang seharusnya dinilai.
2)        Berdasarkan tujuan tersebut, tentukan aspek variabel yang akan diungkapkan melalui alat ukur ini.
3)        Tetapkan bentuk rentangan nilai yang akan digunakan (nilai atau kategori).
4)        Buatlah item-item yang akan dinilai dalam kalimat yang singkat tetapi bermakna secara logis dan sistematis.
5)        Tetapkan pedoman mengolah dan menafsirkan hasil yang diperoleh dari penilaian ini.
c.       Skala Sikap
Skala sikap digunakan untuk mengukur sikap seseorang terhadap objek tertentu. Hasilnya berupa kategori sikap, yakni mendukung (positif), menolak (negatif) dan netral. Sikap pada hakekatnya kecenderungan berprilaku pada seseorang. Sikap juga diartikan reaksi seseorang terhadap suatu stimulus yang datang pada dirinya.
Ada tiga komponen sikap yaitu :
1)      Kognisi, berkenaan dengan pengetahuan seseorang atau stimulus yang dihadapi.
2)      Afeksi, berkenaan dengan perasaan dalam menanggapi objek tertentu.
3)      Konasi, berkenaan dengan kecenderungan berbuat terhadap suatu objek.
Sekala sikap dinyatakan dalam bentuk pernyataan untuk dinilai oleh responden, apakah pernyataan itu didukung atau ditolak, melalui rentang nilai. Karena itu, pernyataan yang diajukan dibagi kedalam dua kategori, yaitu pernyataan positif dan pernyataan negatif.
Salah satu skla sikap yang sering digunakan ialah skla likert, pernyataan-pernyataan yang diajukan baik yang postif maupun yang negatif dinilai oleh subjek dengan sangat setuju, setuju, tidak punya pendapat, tidak sutuju sangat tidak setuju.
Beberapa petunjuk menyusun skala rikert.
a)      Tentukan objek yang dituju, kemudian tetapkan variabel yang akan diukur dengan skala tersebut.
b)      Lakukan analisis variabel atau dimensi variabel, lalu kembangkan indikator setiap dimensi tersebut.
c)      Dari setiap indikator diatas, tentukan ruang lingkup pernyataan sikap yang berkenaan dengan aspek kognis, afeksi dan konasi terhadap objek sikap.
d)     Susunlah pernyataan untuk masing-masing aspek tersebut dalam dua kategori, yaitu pernyataan positif dan pernyataan negatif secara seimbang banyaknya.
d.      Checklist
Pada dasarnya checklist ialah untuk menyatakan ada atau tidak ada adanya suatu unsur, komponen trait, karakteristik atau kejadian dalam suatu peristiwa, tugas atau satu kesatuan yang kompleks. Dalam checklist pengamat hanya dapat menyatakan ada atau tidak adanya suatu hal yang sedang diamati, bukan member peringkat atau derajat kualitas hal tersebut.
Checklist sangat bermanfaat untuk mengukur hasil belajar, baik yang berupa produk maupun proses yang dapat dirinci kedalam komponen-komponen yang lebih kecil, terdefinisi secara operasional dan atau sangat spesifik.
Kekuatan checklist sangat fleksibel untuk men-cek kemampuan semua jenis dan tingkat hasil belajar serta dapat digunakan untuk semua mata pelajaran. Akan tetapi kualitas suatu checklist akan sangat tergantung pada kejelasan komponen yang dinyatakan dalam daftar, keutuhan komponen itu sebagai bagian menyeluruh dari kemampuan yang diukur, dan kemampuan pengamat untuk menandai ada atau tidaknya komponen tersebut.bahkan hanya suatu daftar cek singkat saja, sudah dapat diambil kesimpulan untuk suatu karakteristik tertentu.
e.       Rating Scale
Yang dimaksud dengan rating scale ialah alat ukur non-tes yang menggunakan suatu prosedur terstruktur untuk memperoleh informasi tentang sesuatu yang diobservasi yang menyatakan posisi sesuatu dalam hubungannya dengan yang lain. Suatu rating scale terdiri dari dua bagian utama, yaitu:
1)      Adanya pernyataan tentang keberadaan atau kualitas keberadaan dari suatu unsur atau karakteristik tertentu
2)      Adanya semacam petunjuk penilaian tentang pernyataan tersebut.
Komponen ini mirip dengan tes objektif, yaitu ada stem dan option. Setiap pasang pernyataan dan penilaian itu dapat dianggap seebagai sebutir soal dalam rating scale.

B.     Skala Pengukuran
Karena pengukuran menggunakan angka atau skala tertentu, maka untuk lebih memahami penggunaan angka atau skala para guru dituntut untuk mengetahui dan memahami karakteristik angka atau skala. Skala atau angka itu dapat diklarifikasikan kedalam 4 (empat) kategori, yaitu :
1.      Skala nominal, yaitu skala yang bersifat kategorikal. Contoh : sebutir soal bentuk objektif dapat dijawab benar oleh mahasiswa. Maka ia dapat skor 1 (satu) akan tetapi apabila salah ia akan mendapat skor 0 (nol).
2.      Skala ordinal, yaitu angka yang menunjukan adanya urutan, tanpa mempersoalkan jarak antar urutan tersebut. Misalnya, angka yang menunjukkan urutan ranking siswa yang memperoleh ranking satu bukan berarti dua kali lebih pandai dari siswa yang memperoleh ranking 2 (dua). Jarak kepandaian siswa ranking satu dengan ranking dua tidak sama dengan jarak kepandaian mahasiswa ranking dua dengan ranking tiga dan seterusnya.
3.      Skala interval, yaitu angka yang menunjukan adanya jarak yang sama dari angka yang berurutan. Misalnya angka Km untuk mengukur jarak. Jarak antara km 1 dengan km 2 sama denganjarak antara km 3 dengan km 4 dan seterusnya.
4.      Skala atau angka ratio, yaitu angka yang memiliki semua karakteristik angka atau skala yang terdahulu dan ditambah dengan satu karakteristik lagi yaitu memiliki nol mutlak. Misalnya, tinggi badan seseorang, bila tinggi badan manusia 0 cm, maka tinggi badan tersebut tidak mempunyai makna. Demikian pula dengan berat badan manusia, angka nol tidak bermakna.

BAB III
PENUTUP
A.         Kesimpulan
Alat pengukuran dalam menilai hasil belajar siswa harus sesuai dengna jenis tes yaitu dengan tekhnik tes dan non tes. Dimana dalam pembelajaran yang sesuai dengan tujuan pembelajaran dam cara-cara yang telah ditentukan yaitu jenis tes sebagai alat ukur yang terbagi menjadi dua yaitu tehnik tes dan non tes. Tehnik tes yang terdiri dari pilihan ganda, isian atau melengkapi, uraian atau essay. Infaormasi hasil belajar tidak hanya didapatkan melalui tes melainkan juga dengan non tes seperti observasi, skala nilai, skala sikap, daftar cek (check list), rating scale. Dalam pengukuran dapat menggunakan angka atau skala yang menggunakan angka atau skala.

B.          Saran
                Sebagai calon guru dimasa yang akan datang, dalam evaluasi pembelajaran diharapkan untuk dapat menggunakan alat pengukuran yang sesuai dengan jenis tes yang digunakan untuk menilai hasil belajar siswa dan dituntut untuk mengetahui dan memahami karakteristik penggunaan angka dan skala pengukuran.



Daftar Pustaka
Setiamihardja, Realin (2006). Evaluasi Pembelajaran (Assessment Based Classroom). Bandung: PGSD UPI Kampus Cibiru

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

terima kasih sudah berkunjung , diharapkan untuk meluangkan pendapat anda ....!!